Dia bukan pemimpin yang disukai.
Kata-katanya kasar.
Nada bicaranya tinggi.
Dan harga diri orang lain sering kali jadi hal pertama yang dia korbankan.
Sebutan “babu” bukan sekadar kata itu seperti cap yang dilempar begitu saja,
seolah manusia bisa diperkecil sesuka hati.
Setiap pagi,
orang datang bukan dengan semangat,
tapi dengan jantung yang sudah berdegup lebih cepat dari biasanya.
Takut salah.
Takut dipanggil.
Takut dipermalukan.
Dan semua diam.
Bukan karena setuju.
Tapi karena hidup tidak selalu memberi pilihan.
Aku juga melihatnya seperti itu.
Seorang pemimpin yang pintar,
tapi gagal jadi manusia.
Sampai hari itu datang.
Hari di mana semuanya berhenti.
Dia pergi Selamanya…dan itu tiba-tiba.
Dan anehnya,
orang-orang yang dulu sering dia lukai,
justru datang kepemakaman.
Satu per satu datang
Bukan untuk membalas,
tapi untuk mengenang.
Di situlah cerita yang selama ini tersembunyi mulai terbuka.
Tentang tagihan rumah sakit yang tiba-tiba lunas.
Tentang anak yang tetap bisa sekolah tanpa tahu siapa yang membayar.
Tentang masalah hidup yang entah bagaimana terselesaikan… diam-diam.
Tidak pernah diumumkan.
Tidak pernah dijadikan pencitraan.
Bahkan tidak pernah diakui.
Dia tetap jadi orang yang sama kasar di depan, diam-diam menanggung di belakang.
Dan di situ, semua persepsi runtuh.
Ternyata,
orang yang paling keras suaranya,
justru yang paling sunyi saat berbuat BAIK.
Sejak hari itu aku sadar,
tidak semua orang baik itu menyenangkan.
Dan tidak semua orang kasar itu KEJAM.
Karena ada orang yang tidak tahu cara berbicara dengan lembut,
tapi tahu persis bagaimana membantu tanpa diketahui.
Dia bukan pemimpin yang sempurna.
Tapi dia nyata.
Dan kadang,
yang nyata…
tidak datang dalam bentuk yang kita harapkan.
“My Ex Boss..saya hanya mengenang saja”