Aku masih ingat hari pertama masuk ke perusahaan itu.
Sebuah perusahaan PMA yang jauh dari kata mewah.
Tidak ada ruang kerja eksklusif.
Tidak ada fasilitas yang membuat orang iri.
Hanya dua ruangan besar yang diisi oleh semua departemen. Sales, Project, PMO, Finance, HR. Semua bekerja di ruangan yang sama.
Setiap siang kantor terasa panas.
AC tidak pernah cukup.
Sebagian dari kami membawa kipas angin sendiri dari rumah agar bisa tetap bekerja dengan nyaman.
Belum lagi bau tidak sedap yang entah dari mana sering muncul melalui ventilasi udara setiap siang hari.
Kalau mengingatnya sekarang, rasanya lucu.
Tapi anehnya, kami bahagia.
Mungkin karena saat itu kami tidak sedang membangun karier.
Kami sedang membangun sesuatu bersama. Team Work ada walaupun tidak 100%
Revenue perusahaan bahkan belum mencapai seratus miliar rupiah.
Namun ada sesuatu yang jauh lebih besar dari angka.
Kepercayaan.
Loyalitas.
Rasa memiliki.
Dan CEO Seorang leader tertinggi yang tidak pernah pelit berbagi ilmu.
Bagi sebagian orang dia adalah atasan.
Bagi saya, dia lebih seperti guru.
Aku belajar banyak di sana.
Tentang teknologi.
Tentang bisnis.
Tentang manusia.
Tentang bagaimana memahami karakter orang yang berbeda-beda.
Tentang bagaimana cara membuat perusahaan bertumbuh.
Tahun demi tahun berlalu.
Perusahaan berkembang.
Revenue naik.
Customer bertambah.
Target tercapai.
Kami bangga. Segala nya lancar…
Karena kami merasa ikut membangun setiap bata yang membentuk fondasi perusahaan itu.
Namun semakin besar perusahaan itu tumbuh, semakin aku menyadari sesuatu.
CEO kami bekerja terlalu keras. Makin Depending
Terlalu dalam.
Terlalu detail.
Ia hadir hampir di semua lini.
Awalnya aku mengaguminya.
Tetapi lama-kelamaan aku sadar.
Ketika seorang pemimpin harus mengawasi semuanya sendiri, sering kali itu bukan tanda kekuatan.
Itu tanda bahwa tidak ada sistem yang benar-benar bisa ia percayai.
Di bawahnya ada banyak kepala divisi.
Secara struktur semuanya terlihat lengkap.
Tetapi kenyataannya tidak sesederhana itu.
Aku mulai melihat rapat yang berubah menjadi adu ego. Ada pihak-pihak yang merasa super Power.
Aku mulai melihat peluang-peluang bagus ditolak bukan karena buruk, melainkan karena terlalu sulit untuk dijalankan dan pihak-pihak tersebut tidak mau secara sadar mengakui kalau mereka tidak mampu, tapi dengan alasan overload and busy.
Aku mulai melihat bagaimana kepentingan pribadi sering kali menang atas kepentingan perusahaan.
Dan semakin sering aku berdebat demi masa depan perusahaan, semakin sering aku berdiri sendirian.
Satu melawan empat.
Aku lelah.
Tetapi aku tetap bertahan.
Karena aku mencintai tempat itu.
Suatu malam, beberapa tahun setelah aku bergabung, aku duduk bersama CEO kami.
Sebuah tempat semi-pub.
Musik keras.
Orang berlalu-lalang.
Suara gelas beradu.
Suara tawa.
Dan di tengah keramaian itu kami berbicara tentang masa depan perusahaan.
Aku mengeluh.
Aku menceritakan kekhawatiranku.
Tentang internal politik Perusahaan
Tentang orang-orang yang menurutku suatu hari akan menjadi beban perusahaan.
Tentang Kolega yang merasa punya Power , merasa paling berjasa, merasa Paling hebat dll
Dia hanya tersenyum.
Lalu berkata,
“Lihat sekeliling.”
Aku melihat.
Orang mabuk.
Musik keras.
Keramaian.
“Kamu bisa menikmati semua ini tanpa kehilangan fokus pada tujuanmu, kan?”
Aku mengangguk.
Lalu dia berkata sesuatu yang tidak pernah aku lupakan.
“Fokus saja pada visi kita. Dan dari semua orang di level atas yang ada di Perusahaan ini, kamu adalah salah satu yang paling aku percaya.“
Malam itu aku pulang dengan semangat baru dan
Kami sepakat bahwa perusahaan membutuhkan seseorang.
Seseorang yang bisa menjadi jembatan.
Seseorang yang bisa membantu menyatukan semua perbedaan.
Seseorang yang bisa membantu CEO membawa perusahaan ke level berikutnya.
Berbulan-bulan kami mencari.
Ngopi.
Diskusi.
Interview sederhana.
Sampai akhirnya kami menemukan seseorang.
Sebut saja namanya Cory.
Aku masih ingat ketika dia pertama kali datang.
Dia banyak mendengar.
Dia bertanya.
Dia belajar.
Dia terlihat rendah hati and Friendly
Dan aku coba menaruh percaya padanya.
Mungkin terlalu percaya.
Karena akulah salah satu orang yang mendorong kehadirannya.
Aku membuka akses.
Memperkenalkannya kepada customer.
Menjelaskan budaya perusahaan.
Membantu dia memahami semua yang perlu dipahami.
Karena aku ingin dia berhasil.
Karena aku percaya dia akan membantu menyelamatkan perusahaan yang aku cintai.
Ketika banyak orang menolaknya, aku justru berdiri di belakangnya.
Ketika banyak yang meragukannya, aku yang meyakinkan CEO bahwa dia layak diberi ruang lebih besar.
Bahkan ketika ide untuk menjadikannya Deputy CEO muncul, aku termasuk orang yang mendukungnya.
Aku pikir aku sedang membantu perusahaan.
Aku pikir aku sedang membantu masa depan.
Aku tidak tahu bahwa aku sedang membantu sesuatu yang suatu hari akan mengubah segalanya.
Enam bulan pertama berjalan indah.
Lalu perlahan semuanya berubah.
Bukan dalam satu malam.
Tidak ada ledakan.
Tidak ada drama besar.
Hanya perubahan-perubahan kecil yang awalnya hampir tidak terlihat.
Nada bicara menjadi lebih kasar.
Diskusi berubah menjadi perintah
Pendapat berubah menjadi gangguan dan seperti ancaman
Makan Siang jadi beban karena harus mendengar nya satu arah dan penuh ancaman
Kekuasaan mulai terasa lebih penting daripada tujuan.
Dan untuk pertama kalinya, aku melihat rasa hormat perlahan menghilang dari ruang rapat.
Aku mulai melihat orang-orang yang yang super power dan berani berbicara memilih diam.
Aku mulai melihat keputusan dibuat tanpa mendengar siapa pun.
Aku mulai melihat perusahaan bergerak semakin cepat, tetapi kehilangan arah.
Revenue melonjak. Fantatis
Angka terlihat luar biasa.
Semua orang merayakannya.
CEO bahagia.
Tetapi aku justru semakin khawatir.
Karena aku melihat sesuatu yang tidak dilihat banyak orang.
Risiko.
Lubang-lubang kecil yang suatu hari bisa menjadi jurang besar.
Namun setiap kekhawatiran selalu dijawab dengan kalimat yang sama.
“I don’t care about your concerns. Just do it.”
Kalimat itu terus terngiang.
Dan setiap kali mendengarnya, aku merasa semakin jauh dari perusahaan yang dulu aku cintai.
Sampai suatu hari aku menyadari sesuatu yang menyakitkan.
Aku sedang berjuang mempertahankan sesuatu yang bahkan tidak lagi ingin diselamatkan oleh orang-orang yang memimpinnya.
Aku mulai kehilangan energi.
Mulai kehilangan semangat.
Mulai kehilangan diriku sendiri.
Lalu tubuhku mengambil keputusan yang tidak berani aku ambil.
Aku jatuh sakit.
Masuk IGD.
Dan untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, aku berhenti
Tidak ada meeting.
Tidak ada telepon.
Tidak ada target.
Hanya suara monitor rumah sakit dan keheningan yang panjang. Saya tertidur cukup lama.
Di situlah aku akhirnya mengerti.
Masalah terbesar dalam hidupku bukan pekerjaan.
Masalah terbesar dalam hidupku adalah aku terlalu lama mencoba menyelamatkan sesuatu yang tidak bisa kuselamatkan sendirian.
Aku terlalu lama mengorbankan kesehatan demi loyalitas & Integritas
Terlalu lama mengorbankan ketenangan demi harapan bahwa semuanya akan kembali seperti dulu.
Padahal kenyataannya tidak.
Beberapa hal memang berubah.
Beberapa orang memang berubah.
Dan tidak semua yang pernah kita bangun akan tetap menjadi rumah.
Hari aku memutuskan pergi di hari yang bukan Damai
dan untuk pertama kalinya aku memilih diriku sendiri.
Aku tidak pergi karena kalah.
Aku tidak pergi karena menyerah.
Aku pergi karena akhirnya aku mengerti bahwa loyalitas tidak boleh dibayar dengan kesehatan.
Bahwa integritas tidak boleh ditukar dengan kenyamanan.
Dan bahwa ada saatnya kita harus melepaskan sesuatu yang kita cintai agar tidak ikut hancur bersamanya.
Sampai hari ini aku masih bersyukur pernah menjadi bagian dari perjalanan itu.
Aku masih menghormati orang-orang yang pernah berjuang bersama.
Aku masih mengenang masa-masa ketika kami bekerja di kantor panas dengan kipas angin seadanya dan mimpi yang jauh lebih besar daripada kondisi kami saat itu.
Karena di sanalah aku belajar satu hal yang paling berharga.
Tidak semua kehilangan adalah akhir.
Kadang kehilangan hanyalah cara Tuhan menyelamatkan kita dari tempat yang sudah tidak lagi sehat untuk ditinggali.
Dan kadang orang yang paling perlu kita selamatkan bukan perusahaan, bukan jabatan, bukan bisnis.
Melainkan diri kita sendiri.
Jakarta, Juni 2023