Dulu, ada seseorang yang hampir setiap hari menghubungiku.
“Bisa cerita?”
“eh loe apa kabar? udah bangun belon ? hari ini mau ngapain?”
“Jangan dipendam sendiri ya, Loe bisa cerita ama gue”
Aku berpikir, mungkin aku beruntung memiliki teman yang peduli. Di saat banyak orang terlalu sibuk dengan hidupnya masing-masing, masih ada seseorang yang meluangkan waktu hanya untuk mendengar.
Hari demi hari, bulan demi bulan, telepon itu selalu datang. Aku merasa dihargai, didengar, dan dianggap penting.
Sampai akhirnya aku mulai menyadari satu pola.
Di antara obrolan dan perhatian yang diberikan, selalu ada satu kebutuhan yang muncul. Meminjam uang.
Awalnya aku membantu karena menganggap itulah arti pertemanan. Jika teman sedang kesulitan dan kita mampu membantu, kenapa nggak?
Namun ketika permintaan itu terus berulang, dan pola yang sama, tanpa ada kata “Tolong”dan selalu di pattern jam yang sama…aku mulai menyadari dan belajar berkata tidak.
Dan di situlah semuanya menjadi jelas.
Tidak ada lagi telepon yang menanyakan kabar. Tidak ada lagi pesan yang memastikan aku baik-baik saja. Tidak ada lagi perhatian yang dulu terasa begitu tulus.
Seolah-olah hubungan yang selama ini ada ternyata memiliki harga. Dan ketika aku berhenti membayar harga itu, hubungan tersebut ikut menghilang.
Sedih? nggak juga sih..
Kecewa? nggak juga…karena hati jadi lebih lega.
Tapi terkadang hidup memang memperlihatkan wajah asli seseorang bukan saat kita memberi, melainkan saat kita berhenti memberi.
Dari situ aku belajar bahwa tidak semua orang yang sering hadir benar-benar peduli. Ada yang mendekat karena hati, ada pula yang mendekat karena manfaat.
Dan mungkin, kehilangan teman yang hanya bertahan karena uang bukanlah kehilangan yang sesungguhnya. Itu hanya cara hidup menunjukkan siapa yang layak tetap tinggal.
“Ketika bantuan berhenti dan perhatian ikut menghilang, saat itulah kita tahu bahwa yang dicari bukan pertemanan, melainkan keuntungan.”